
P
Pekerjaan pemasangan tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) memiliki berbagai potensi bahaya. Risiko tersebut semakin tinggi ketika pekerja melakukan aktivitas di dekat jaringan listrik.
Karena itu, perusahaan perlu merencanakan pekerjaan dengan matang sebelum tim turun ke lapangan. Persiapan tersebut mencakup survei lokasi, identifikasi bahaya, penilaian risiko, hingga penentuan metode kerja yang aman.
Salah satu insiden yang menjadi pengingat pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terjadi saat pemasangan tiang PJU. Dalam kejadian tersebut, satu pekerja meninggal dunia dan empat pekerja lainnya mengalami luka setelah tiang yang mereka pasang tersambar jaringan listrik.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana tetap membutuhkan pengendalian risiko yang serius. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan dengan memperhatikan aspek keselamatan.
Mengapa Pemasangan Tiang PJU Berisiko?
Pekerja harus mengangkat, memindahkan, mendirikan, dan memasang tiang PJU. Selain itu, setiap tahapan pekerjaan dapat menghadirkan bahaya yang berbeda.
Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
- Kontak dengan jaringan listrik udara.
- Sengatan listrik dan paparan energi listrik.
- Tiang atau peralatan menyentuh jaringan listrik.
- Tiang kehilangan keseimbangan dan roboh.
- Material atau peralatan jatuh dari ketinggian.
- Kendaraan melintas di sekitar area kerja.
- Kondisi cuaca seperti hujan dan angin kencang.
- Penggunaan alat kerja yang tidak sesuai.
- Komunikasi yang tidak jelas antaranggota tim.
Di antara berbagai risiko tersebut, pekerjaan yang berlangsung dekat jaringan listrik membutuhkan perhatian khusus. Bahkan, pergerakan tiang saat proses pengangkatan dapat meningkatkan risiko kontak dengan jaringan listrik di sekitarnya.
Apa yang Salah dari Sisi K3?
Setiap kecelakaan kerja membutuhkan analisis secara menyeluruh. Karena itu, kita tidak boleh langsung menyalahkan pekerja atau pihak tertentu.
Namun, tim K3 tetap perlu mengevaluasi berbagai aspek sebelum pekerjaan pemasangan tiang berlangsung. Evaluasi tersebut dapat membantu perusahaan menemukan celah pengendalian dan mencegah kejadian serupa.
1. Tim Belum Mengidentifikasi Bahaya Secara Menyeluruh
Pertama, tim perlu memeriksa seluruh sumber bahaya di lokasi sebelum memulai pekerjaan.
Misalnya, apakah terdapat jaringan listrik udara? Seberapa dekat jaringan tersebut dengan titik pemasangan? Bagaimana posisi tiang ketika pekerja mengangkatnya? Apakah tiang atau alat kerja dapat masuk ke area berbahaya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perusahaan dapat menggunakan Job Safety Analysis (JSA), HIRADC, atau metode identifikasi risiko lainnya sesuai sistem K3 yang berlaku.
Dengan begitu, pekerja dapat memahami potensi bahaya sebelum mereka melakukan pekerjaan.
2. Tim Tidak Memastikan Kondisi Jaringan Listrik
Selanjutnya, tim perlu memperhatikan keberadaan jaringan listrik di sekitar lokasi kerja. Posisi dan kondisi jaringan dapat memengaruhi metode pemasangan tiang.
Selain itu, pekerja perlu mengetahui ketinggian jaringan serta potensi kontak dengan tiang atau peralatan kerja.
Jika lokasi pekerjaan berada dekat jaringan listrik, perusahaan perlu melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Langkah tersebut membantu tim menentukan pengamanan dan metode kerja yang sesuai.
3. Tim Mengabaikan Jarak Aman
Jarak aman menjadi salah satu aspek penting dalam pekerjaan dekat jaringan listrik. Jangan hanya melihat posisi tiang ketika tiang sudah berdiri.
Selama proses pengangkatan, tiang dapat bergerak, berayun, atau kehilangan keseimbangan. Oleh sebab itu, tim perlu memperhitungkan panjang tiang, posisi pekerja, alat bantu, serta kondisi lingkungan.
Dengan demikian, perusahaan harus menentukan jarak aman sejak tahap perencanaan. Jangan menunggu sampai pekerjaan berlangsung untuk mencari solusi keselamatan.
4. Tim Belum Menentukan Pengendalian Risiko yang Tepat
Setelah menemukan bahaya, tim perlu menentukan langkah pengendalian yang sesuai.
Misalnya, perusahaan dapat mengubah metode kerja atau memindahkan posisi pekerjaan. Selain itu, tim dapat membatasi area kerja menggunakan rambu dan barricade.
Penggunaan alat bantu yang tepat juga dapat membantu mengurangi risiko. Jika pekerjaan berlangsung dekat jaringan listrik, perusahaan perlu berkoordinasi dengan pemilik atau pengelola jaringan.
Dengan kata lain, perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan kewaspadaan pekerja untuk menghadapi bahaya. Pengendalian harus dimulai dari perencanaan pekerjaan.
5. Komunikasi dan Pengawasan Belum Optimal
Pekerjaan pengangkatan dan pendirian tiang membutuhkan komunikasi yang jelas. Karena itu, setiap anggota tim harus memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Selanjutnya, satu orang perlu memberikan aba-aba selama proses pengangkatan. Operator alat juga harus memahami instruksi tersebut.
Sementara itu, petugas lain perlu mengawasi kondisi di sekitar area kerja. Dengan pembagian tugas yang jelas, tim dapat mengurangi risiko kesalahan komunikasi selama pekerjaan berlangsung.
Bagaimana Mencegah Kecelakaan Saat Pemasangan Tiang PJU?
Perusahaan dapat menerapkan beberapa langkah berikut untuk mengurangi risiko kecelakaan saat pemasangan tiang PJU.
1. Lakukan Survei Lokasi
Pertama, periksa kondisi lokasi sebelum pekerjaan dimulai. Perhatikan jaringan listrik udara, bangunan, kendaraan, utilitas lain, kondisi tanah, serta akses menuju area kerja.
Selain itu, tentukan titik pemasangan dan jalur pergerakan tiang sejak awal.
2. Buat JSA atau HIRADC
Selanjutnya, identifikasi bahaya pada setiap tahapan pekerjaan. Jangan hanya melihat risiko ketika pekerja sudah berada di lokasi.
Melalui JSA atau HIRADC, tim dapat menilai tingkat risiko dan menentukan pengendalian yang sesuai. Dengan demikian, pekerja memiliki acuan keselamatan sebelum memulai pekerjaan.
3. Tentukan Metode Kerja yang Aman
Metode kerja harus menyesuaikan panjang dan berat tiang, kondisi lokasi, alat bantu, serta lingkungan sekitar.
Karena itu, perusahaan perlu menentukan metode pengangkatan dan pendirian tiang sebelum pekerjaan berlangsung. Jika kondisi lapangan berubah, tim juga perlu mengevaluasi kembali metode kerja tersebut.
4. Pastikan Jarak Aman dari Jaringan Listrik
Selanjutnya, pastikan tiang, alat, material, dan pekerja tidak masuk ke area berbahaya di sekitar jaringan listrik.
Jangan mengandalkan perkiraan visual saja. Tim perlu memperhitungkan kemungkinan pergerakan tiang dan alat selama proses pengangkatan.
Jika kondisi tidak memungkinkan pekerjaan berlangsung dengan aman, hentikan pekerjaan dan lakukan evaluasi terlebih dahulu.
5. Lakukan Koordinasi dengan Pihak Terkait
Pekerjaan yang berada dekat jaringan listrik membutuhkan koordinasi yang baik. Oleh sebab itu, perusahaan perlu berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab terhadap jaringan tersebut.
Koordinasi ini dapat membantu tim memahami kondisi jaringan dan menentukan langkah pengamanan yang diperlukan.
6. Gunakan Alat dan APD yang Sesuai
Selain pengendalian teknis, pekerja perlu menggunakan alat kerja dan APD sesuai risiko pekerjaannya.
Namun, APD bukan satu-satunya cara untuk mengendalikan bahaya listrik. Perusahaan tetap perlu mengendalikan sumber bahaya sejak tahap perencanaan.
Dengan demikian, APD berfungsi sebagai bagian dari sistem pengendalian risiko, bukan sebagai pengganti pengendalian bahaya.
7. Terapkan Sistem Komunikasi yang Jelas
Selama proses pengangkatan, setiap anggota tim harus mengetahui siapa yang memberikan instruksi.
Misalnya, satu orang bertugas memberikan aba-aba kepada operator. Sementara itu, anggota tim lainnya mengawasi kondisi sekitar.
Dengan komunikasi yang jelas, tim dapat mengurangi risiko kesalahan saat mengangkat dan mendirikan tiang.
8. Terapkan Stop Work Authority
Terakhir, pekerja harus memiliki hak untuk menghentikan pekerjaan ketika menemukan kondisi yang tidak aman.
Misalnya, pekerja menemukan jaringan listrik yang lebih dekat dari perkiraan atau melihat perubahan kondisi cuaca. Dalam situasi tersebut, tim perlu menghentikan pekerjaan dan melakukan evaluasi.
Setelah kondisi aman dan pengendalian tersedia, pekerjaan dapat dilanjutkan kembali.
K3 Bukan Sekadar Menggunakan APD
Banyak orang mengaitkan keselamatan kerja hanya dengan penggunaan APD. Padahal, penerapan K3 mencakup lebih banyak aspek.
Perusahaan perlu memulai penerapan K3 sejak tahap perencanaan. Selanjutnya, tim harus melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko, pengendalian, dan pengawasan.
Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan kompetensi pekerja, prosedur kerja, komunikasi, serta evaluasi berjalan dengan baik.
Khusus untuk pekerjaan yang berhubungan dengan listrik, tim harus memberikan perhatian lebih terhadap sumber energi listrik. Sebab, satu kesalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.
Oleh karena itu, perusahaan tidak cukup hanya membagikan APD kepada pekerja. Perusahaan juga perlu memastikan pekerja memahami bahaya dan mampu menerapkan prosedur kerja yang aman.
Jadikan Setiap Kecelakaan sebagai Pembelajaran
Insiden pemasangan tiang PJU yang menyebabkan satu pekerja meninggal dunia dan pekerja lainnya mengalami luka menjadi pengingat penting bagi dunia kerja.
Setiap pekerjaan memiliki risiko. Oleh sebab itu, perusahaan dan pekerja perlu mengenali serta mengendalikan risiko tersebut sebelum memulai aktivitas.
Tujuan K3 bukan hanya memastikan pekerja memakai helm atau rompi keselamatan. Lebih dari itu, K3 bertujuan memastikan pekerja dapat menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke rumah dengan selamat.
Sebelum mendirikan tiang, mengangkat material, atau bekerja di dekat jaringan listrik, berhentilah sejenak dan tanyakan:
“Apa saja bahaya di sekitar pekerjaan ini? Apakah semua risikonya sudah dikendalikan?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu tim melihat kembali kondisi pekerjaan sebelum mengambil tindakan.
Kesimpulan
Kecelakaan kerja pemasangan tiang PJU menjadi pengingat bahwa pekerjaan di dekat jaringan listrik memiliki risiko serius. Oleh karena itu, perusahaan perlu merencanakan setiap pekerjaan dengan matang.
Penerapan K3 harus dimulai sebelum pekerjaan berlangsung. Tim perlu melakukan survei lokasi, identifikasi bahaya, penilaian risiko, penentuan metode kerja, serta pengendalian sumber energi listrik.
Selain itu, komunikasi dan pengawasan juga harus berjalan dengan baik. Dengan koordinasi yang jelas, setiap anggota tim dapat memahami tugas dan tanggung jawabnya.
Kompetensi tenaga kerja turut berperan dalam mencegah kecelakaan. Pekerja yang memahami risiko pekerjaannya dapat mengenali potensi bahaya dan menerapkan cara kerja yang lebih aman.
Karena itu, pelatihan dan sertifikasi K3 sesuai bidang pekerjaan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Melalui pelatihan, pekerja dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan risiko di tempat kerja.
Pada akhirnya, perusahaan tidak boleh menunggu kecelakaan terjadi untuk melakukan evaluasi. Kenali setiap potensi bahaya sebelum pekerjaan dimulai dan lakukan pengendalian secara tepat.
Kenali bahayanya, tingkatkan kompetensinya, terapkan K3-nya. Karena keselamatan kerja dimulai dari tenaga kerja yang kompeten dan peduli terhadap keselamatan.
ekerjaan pemasangan tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) memiliki berbagai potensi bahaya. Risiko semakin tinggi ketika pekerja melakukan aktivitas di dekat jaringan listrik.
Karena itu, tim perlu melakukan identifikasi bahaya, mengamankan area, dan melakukan koordinasi sebelum memulai pekerjaan. Persiapan yang matang dapat membantu mencegah kecelakaan kerja.
Salah satu insiden yang menjadi pengingat pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terjadi saat pemasangan tiang PJU. Dalam kejadian tersebut, satu pekerja meninggal dunia dan empat pekerja lainnya mengalami luka setelah tiang yang mereka pasang tersambar jaringan listrik.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana tetap membutuhkan perencanaan dan pengendalian risiko yang serius.
Mengapa Pemasangan Tiang PJU Berisiko?
Pekerja harus mengangkat, memindahkan, mendirikan, dan memasang tiang PJU. Setiap tahapan tersebut memiliki potensi bahaya yang perlu diperhatikan.
Beberapa risiko yang dapat muncul antara lain:
- Jaringan listrik udara di sekitar lokasi kerja.
- Sengatan atau paparan energi listrik.
- Kontak antara tiang atau peralatan dengan jaringan listrik.
- Tiang roboh atau kehilangan keseimbangan.
- Material atau peralatan jatuh dan mengenai pekerja.
- Kendaraan yang melintas di sekitar area kerja.
- Hujan atau angin kencang.
- Penggunaan alat kerja yang tidak sesuai.
- Komunikasi yang kurang efektif antarpekerja.
Di antara berbagai risiko tersebut, jarak aktivitas kerja dengan jaringan listrik bertegangan membutuhkan perhatian khusus.
Apa yang Salah dari Sisi K3?
Setiap kecelakaan kerja membutuhkan analisis secara menyeluruh. Karena itu, kita tidak boleh langsung menyalahkan pekerja atau pihak tertentu.
Namun, tim K3 tetap perlu mengevaluasi beberapa aspek sebelum pekerjaan pemasangan tiang berlangsung.
1. Identifikasi Bahaya Belum Menyeluruh
Tim harus memeriksa seluruh sumber bahaya di lokasi sebelum memulai pekerjaan.
Misalnya, apakah terdapat jaringan listrik udara? Seberapa dekat jaringan tersebut dengan titik pemasangan? Bagaimana posisi tiang ketika pekerja mengangkatnya? Apakah tiang atau alat kerja dapat masuk ke area berbahaya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perusahaan dapat menggunakan Job Safety Analysis (JSA), HIRADC, atau metode identifikasi risiko lainnya sesuai sistem K3 yang berlaku.
2. Tim Tidak Memastikan Kondisi Jaringan Listrik
Keberadaan jaringan listrik di sekitar lokasi kerja membutuhkan perhatian khusus. Tim perlu mengetahui posisi dan kondisi jaringan sebelum memulai pekerjaan.
Selain itu, pekerja juga perlu memperhitungkan ketinggian jaringan serta potensi kontak dengan tiang atau peralatan.
Jika pekerjaan berlangsung dekat dengan jaringan listrik, lakukan koordinasi dengan pihak terkait terlebih dahulu. Langkah ini membantu tim menentukan pengamanan yang diperlukan.
3. Tim Mengabaikan Jarak Aman
Jangan hanya melihat posisi tiang ketika sudah berdiri. Selama proses pengangkatan, tiang dapat bergerak, berayun, atau kehilangan keseimbangan.
Oleh sebab itu, tim perlu memperhitungkan panjang tiang, posisi pekerja, alat bantu, serta kondisi lingkungan.
Dengan demikian, tim harus menentukan jarak aman sejak tahap perencanaan, bukan ketika pekerjaan sudah berlangsung.
4. Tim Belum Menentukan Pengendalian Risiko yang Tepat
Setelah menemukan bahaya, tim harus menentukan langkah pengendalian yang sesuai.
Perusahaan dapat mengubah metode kerja atau memindahkan posisi pekerjaan. Selain itu, tim dapat membatasi area kerja dengan rambu dan barricade.
Penggunaan alat bantu yang tepat juga dapat membantu mengurangi risiko. Jika pekerjaan berlangsung dekat jaringan listrik, lakukan koordinasi dengan pemilik atau pengelola jaringan.
Jangan hanya mengandalkan kewaspadaan pekerja untuk menghadapi bahaya.
5. Komunikasi dan Pengawasan Belum Optimal
Pekerjaan pengangkatan dan pendirian tiang membutuhkan komunikasi yang jelas. Setiap anggota tim harus memahami tugas masing-masing.
Satu orang perlu memberikan aba-aba selama proses pengangkatan. Operator alat juga harus memahami instruksi tersebut. Sementara itu, petugas lain perlu mengawasi kondisi di sekitar area kerja.
Dengan pembagian tugas yang jelas, tim dapat mengurangi risiko kesalahan komunikasi selama pekerjaan berlangsung.
Bagaimana Mencegah Kecelakaan Saat Pemasangan Tiang PJU?
Tim perlu melakukan pengendalian sejak tahap perencanaan. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:
1. Lakukan Survei Lokasi
Periksa area kerja sebelum memulai aktivitas. Pastikan tim mengetahui keberadaan jaringan listrik udara dan utilitas lainnya.
2. Buat JSA atau HIRADC
Identifikasi setiap bahaya pada seluruh tahapan pekerjaan. Proses ini mencakup mobilisasi, pengangkatan, pendirian tiang, pemasangan lampu, hingga pekerjaan selesai.
3. Tentukan Metode Kerja yang Aman
Pilih metode pengangkatan yang sesuai dengan panjang dan berat tiang. Selain itu, pertimbangkan kondisi lokasi serta kemampuan alat yang digunakan.
4. Pastikan Jarak Aman dari Jaringan Listrik
Jangan melanjutkan pekerjaan jika posisi tiang, alat, atau material berpotensi masuk ke area berbahaya jaringan listrik.
Jika kondisi lapangan tidak memungkinkan pekerjaan berlangsung dengan aman, hentikan aktivitas dan lakukan evaluasi.
5. Lakukan Koordinasi dengan Pihak Terkait
Ketika lokasi pekerjaan berada dekat jaringan listrik, perusahaan perlu berkoordinasi dengan pihak yang berwenang.
Koordinasi tersebut dapat membantu menentukan langkah pengamanan sebelum pekerjaan dimulai.
6. Gunakan Alat dan APD yang Sesuai
Gunakan APD berdasarkan hasil identifikasi risiko. Perlengkapan tersebut dapat mencakup helm keselamatan, sepatu keselamatan, sarung tangan, rompi keselamatan, dan perlengkapan lainnya.
Namun demikian, APD bukan pengganti pengendalian bahaya listrik. Tim tetap harus mengendalikan sumber bahaya terlebih dahulu.
7. Terapkan Sistem Komunikasi yang Jelas
Tunjuk satu orang untuk memberikan aba-aba selama proses pengangkatan dan pendirian tiang.
Dengan cara tersebut, pekerja dapat menghindari instruksi yang berbeda atau saling bertentangan.
8. Terapkan Stop Work Authority
Pekerja dan pengawas harus dapat menghentikan pekerjaan ketika menemukan kondisi yang tidak aman.
Setelah itu, tim perlu mengendalikan bahaya sebelum melanjutkan aktivitas.
K3 Bukan Sekadar Menggunakan APD
Banyak orang mengaitkan keselamatan kerja dengan penggunaan APD. Padahal, penerapan K3 mencakup lebih banyak hal.
Perusahaan perlu memulai penerapan K3 dari tahap perencanaan. Selanjutnya, tim harus melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko, pengendalian, dan pengawasan.
Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan kompetensi pekerja, prosedur kerja, komunikasi, serta evaluasi berjalan dengan baik.
Khusus untuk pekerjaan yang berhubungan dengan listrik, tim harus memberikan perhatian lebih terhadap sumber energi listrik. Sebab, satu kesalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.
Jadikan Setiap Kecelakaan sebagai Pembelajaran
Insiden pemasangan tiang PJU yang menyebabkan satu pekerja meninggal dunia dan pekerja lainnya mengalami luka menjadi pengingat penting bagi dunia kerja.
Setiap pekerjaan memiliki risiko. Oleh sebab itu, perusahaan dan pekerja perlu mengenali serta mengendalikan risiko tersebut sebelum memulai aktivitas.
Tujuan K3 bukan hanya memastikan pekerja memakai helm atau rompi keselamatan. Lebih dari itu, K3 bertujuan memastikan pekerja dapat menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke rumah dengan selamat.
Sebelum mendirikan tiang, mengangkat material, atau bekerja di dekat jaringan listrik, berhentilah sejenak dan tanyakan:
“Apa saja bahaya di sekitar pekerjaan ini? Apakah semua risikonya sudah dikendalikan?”
Kesimpulan
Kecelakaan kerja pemasangan tiang PJU menjadi pengingat bahwa pekerjaan di dekat jaringan listrik memiliki risiko serius. Oleh karena itu, perusahaan perlu merencanakan setiap pekerjaan dengan matang.
Penerapan K3 harus dimulai sebelum pekerjaan berlangsung. Tim perlu melakukan survei lokasi, identifikasi bahaya, penilaian risiko, penentuan metode kerja, serta pengendalian sumber energi listrik.
Selain itu, komunikasi dan pengawasan juga harus berjalan dengan baik.
Kompetensi tenaga kerja turut berperan dalam mencegah kecelakaan. Pekerja yang memahami risiko pekerjaannya dapat mengenali potensi bahaya dan menerapkan cara kerja yang lebih aman.
Karena itu, pelatihan dan sertifikasi K3 sesuai bidang pekerjaan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Melalui pelatihan, pekerja dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan risiko di tempat kerja.
Pada akhirnya, perusahaan tidak boleh menunggu kecelakaan terjadi untuk melakukan evaluasi. Kenali setiap potensi bahaya sebelum pekerjaan dimulai dan lakukan pengendalian secara tepat.
Kenali bahayanya, tingkatkan kompetensinya, terapkan K3-nya. Karena keselamatan kerja dimulai dari tenaga kerja yang kompeten dan peduli terhadap keselamatan.

📞 Konsultasi & Pendaftaran Pelatihan | Biaya Pelatihan K3 Perkantoran
Ingin mengetahui biaya pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda?
Hubungi tim PT Safe Tra Indonesia sekarang untuk mendapatkan penawaran terbaik, jadwal pelatihan, dan juga konsultasi GRATIS.
👉 Daftarkan perusahaan Anda hari ini dan ciptakan lingkungan kerja yang lebih aman!
Pendaftaran Personal 👉 
Pendaftaran Perusahaan 👉 
Informasi Jadwal Pelatihan 👉 
INFORMASI JADWAL DAN PENDAFTARAN :
Contact person
(021) 2762-3629 / (021) 3529-6760 (Kantor safetra)
0818-8532-4943 (Marketing)
0813-8425-3270 (Alternatif)
Sosial Media ⇓
Website : www.safetra.co.id
Youtube : Safetra Indonesia
Instagram : PT Safetra Indonesia
Facebook : PT Safetra Indonesia
Tiktok : Safetra Indonesia
Twitter : Media.Safetra

