
Pelatihan penggunaan APAR menjadi salah satu keterampilan penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Kebakaran motor di SPBU Kalimanah, Purbalingga, pada 21 Oktober 2026 menunjukkan bahwa api dapat muncul secara tiba-tiba dan mengancam area di sekitarnya. Petugas SPBU bersama warga segera menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk memadamkan api sebelum kebakaran meluas.
Insiden ini mengingatkan perusahaan bahwa menyediakan APAR saja belum cukup. Pekerja juga perlu memahami cara menggunakan alat pemadam, mengenali potensi bahaya, dan mengambil tindakan yang tepat ketika kebakaran terjadi.
Kronologi Motor Terbakar di SPBU Kalimanah Purbalingga
Radar Banyumas melaporkan bahwa satu unit sepeda motor Honda Astrea Grand terbakar setelah pemiliknya selesai mengisi bahan bakar di SPBU Jalan Mayjen Sungkono, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, pada Rabu malam, 21 Oktober 2026.
Menurut keterangan Kepala Pos Pemadam Kebakaran Purbalingga, Turyono, percikan api muncul ketika pemilik kendaraan hendak menyalakan mesin setelah mengisi BBM. Percikan tersebut diduga berasal dari korsleting pada kabel kelistrikan di area kemudi atau bawah jok.
Percikan api kemudian menyambar uap bahan bakar di sekitar bodi kendaraan. Akibatnya, api membesar dan membakar bagian depan hingga tengah sepeda motor.
Petugas SPBU bersama warga segera melakukan pemadaman menggunakan APAR. Mereka juga memindahkan sepeda motor menjauh dari area SPBU untuk mengurangi risiko kebakaran yang lebih besar.
Upaya tersebut berhasil memadamkan api sebelum seluruh bagian kendaraan terbakar. Setelah menerima laporan, petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Purbalingga mendatangi lokasi untuk melakukan pendinginan dan mencegah api kembali menyala.
Meski petugas berhasil mengendalikan kebakaran, insiden ini menunjukkan pentingnya kesiapan peralatan pemadam dan keterampilan orang yang menggunakannya.
Sumber berita: Radar Banyumas – Motor Terbakar Usai Isi BBM di SPBU Kalimanah Purbalingga.
Mengapa Kebakaran Kecil Bisa Menjadi Ancaman Besar?
Banyak orang menganggap kebakaran kecil mudah dikendalikan. Padahal, api dapat membesar dengan cepat ketika bertemu bahan yang mudah terbakar dan kondisi yang mendukung penyebarannya.
Di SPBU, misalnya, keberadaan bahan bakar dan uapnya meningkatkan potensi bahaya. Karena itu, setiap orang perlu memahami risiko kebakaran dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika api muncul.
Berikut beberapa faktor yang membuat kebakaran membutuhkan penanganan cepat.
1. Percikan api dapat memicu kebakaran
Percikan dari korsleting listrik, peralatan yang rusak, atau sumber penyalaan lainnya dapat memicu kebakaran apabila bertemu bahan mudah terbakar dalam kondisi yang sesuai.
Oleh karena itu, pekerja perlu memeriksa kondisi peralatan secara berkala dan segera melaporkan kerusakan. Langkah ini membantu perusahaan mengenali bahaya sebelum insiden terjadi.
2. Api dapat menyebar ke area sekitar
Kebakaran tidak selalu berhenti pada benda yang pertama kali terbakar. Api dapat menjalar ke material di sekitarnya, terutama ketika tersedia bahan bakar tambahan.
Di lingkungan industri, gudang, bengkel, dan SPBU, penyebaran api dapat mengancam pekerja, pengunjung, aset perusahaan, serta kelangsungan operasional.
3. Kepanikan dapat menghambat penanganan
Ketika api muncul secara tiba-tiba, orang sering kali panik dan tidak tahu harus bertindak bagaimana. Sebagian orang mungkin mencoba memadamkan api tanpa memperhatikan jenis kebakaran, sedangkan yang lain terlambat melakukan evakuasi.
Pelatihan membantu pekerja mengenali situasi darurat, memahami batas kemampuan APAR, dan menentukan kapan mereka harus menghentikan upaya pemadaman serta menyelamatkan diri.
Pelatihan Penggunaan APAR: Mengapa Pekerja Harus Menguasainya?
APAR merupakan peralatan pemadam yang dirancang untuk menangani kebakaran tahap awal. Namun, keberadaan alat ini tidak otomatis menjamin keberhasilan pemadaman.
Pekerja harus memahami cara memilih APAR yang sesuai, memeriksa kondisinya, mengoperasikannya dengan benar, dan menjaga keselamatan selama proses pemadaman.
Melalui pelatihan penggunaan APAR, peserta dapat mempelajari beberapa keterampilan berikut.
1. Mengenali jenis kebakaran dan APAR yang sesuai
Setiap kebakaran memiliki karakteristik yang berbeda. Kebakaran yang melibatkan bahan padat, cairan mudah terbakar, atau peralatan listrik memerlukan pertimbangan pemilihan media pemadam yang sesuai.
Peserta pelatihan mempelajari karakteristik berbagai jenis APAR, termasuk media serbuk kimia kering (dry chemical powder), karbon dioksida (CO₂), dan media lainnya sesuai peruntukannya.
Pemilihan APAR yang tepat membantu meningkatkan efektivitas pemadaman sekaligus mengurangi risiko bagi pengguna.
2. Memeriksa kondisi APAR sebelum keadaan darurat
APAR harus berada dalam kondisi siap pakai ketika kebakaran terjadi. Karena itu, perusahaan perlu menjalankan pemeriksaan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Pekerja atau petugas yang bertanggung jawab perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain:
- Posisi APAR mudah terlihat dan dijangkau.
- Akses menuju APAR tidak terhalang barang.
- Segel, pin pengaman, selang, dan komponen lainnya berada dalam kondisi baik.
- Indikator tekanan menunjukkan kondisi yang sesuai untuk jenis APAR tersebut.
- Label petunjuk penggunaan terbaca dengan jelas.
- Pemeriksaan dan pemeliharaan dilakukan sesuai jadwal.
Selain itu, petugas perlu mencatat hasil pemeriksaan dan segera menindaklanjuti apabila menemukan kerusakan atau kondisi yang tidak sesuai.
Dengan demikian, perusahaan tidak hanya memiliki APAR, tetapi juga memastikan alat tersebut siap digunakan ketika diperlukan.
3. Mempraktikkan cara menggunakan APAR
Peserta perlu memahami urutan pengoperasian APAR melalui penjelasan dan praktik yang terkontrol.
Salah satu metode yang umum digunakan adalah PASS, yaitu:
- Pull: tarik pin pengaman sesuai prosedur.
- Aim: arahkan nosel ke pangkal api dengan tetap menjaga jarak aman.
- Squeeze: tekan tuas untuk mengeluarkan media pemadam.
- Sweep: sapukan media pemadam pada area pangkal api sesuai teknik yang diajarkan.
Namun, metode ini tidak menggantikan penilaian kondisi darurat. Peserta tetap harus mengikuti petunjuk pada tabung, menggunakan APAR yang sesuai, dan memastikan jalur evakuasi tetap tersedia.
Jika api membesar, menghasilkan asap tebal, mengancam keselamatan, atau tidak dapat dikendalikan dengan aman, segera tinggalkan area dan hubungi petugas darurat.
4. Memahami batas aman pemadaman
Tidak semua kebakaran dapat ditangani menggunakan APAR. Petugas hanya boleh mencoba memadamkan api tahap awal apabila telah mendapatkan pelatihan, memiliki alat yang sesuai, dan dapat melakukannya tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam kasus kebakaran di SPBU, pekerja harus memperhatikan potensi penyalaan uap bahan bakar, keberadaan kendaraan lain, serta kemungkinan api menjalar ke fasilitas di sekitarnya.
Karena itu, perusahaan perlu mengajarkan prosedur penghentian aktivitas, pengamanan area, evakuasi, dan pelaporan keadaan darurat. Keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama.
Apa yang Harus Dilakukan Ketika Kebakaran Terjadi di Tempat Kerja?
Respons awal yang tepat dapat membantu mengurangi dampak kebakaran. Namun, pekerja harus mengikuti prosedur tanggap darurat yang berlaku di tempat kerja.
Berikut langkah yang perlu dipahami setiap pekerja.
Pertama, kenali bahaya dan segera beri peringatan. Ketika melihat api atau asap yang mencurigakan, informasikan kepada orang di sekitar dan aktifkan alarm sesuai prosedur perusahaan.
Kedua, hentikan aktivitas yang berisiko jika aman dilakukan. Jauhi sumber bahaya dan jangan melakukan tindakan yang dapat memicu penyalaan tambahan.
Ketiga, lakukan evakuasi. Arahkan pekerja dan pengunjung menuju jalur evakuasi serta titik kumpul yang telah ditentukan. Jangan menghalangi akses petugas pemadam.
Keempat, gunakan APAR hanya jika situasi memungkinkan. Pemadaman awal hanya boleh dilakukan oleh orang yang terlatih, dengan APAR yang sesuai dan jalur keluar yang aman. Jangan mengambil risiko untuk menyelamatkan aset.
Kelima, hubungi petugas darurat. Segera laporkan kejadian kepada tim tanggap darurat atau Damkar sesuai prosedur setempat.
Keenam, pastikan tidak terjadi penyalaan kembali. Setelah petugas mengendalikan api, lakukan pemeriksaan dan penanganan lanjutan oleh pihak yang kompeten sebelum area dinyatakan aman.
Urutan tindakan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi aktual dan prosedur tanggap darurat di masing-masing tempat kerja.
Peran Perusahaan dalam Mencegah Kebakaran
Pencegahan kebakaran membutuhkan komitmen perusahaan, bukan hanya kesiapan pekerja saat keadaan darurat.
Perusahaan perlu mengidentifikasi potensi bahaya, menyediakan sarana proteksi kebakaran, menjalankan inspeksi, dan melatih pekerja secara berkala.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.
Melakukan identifikasi bahaya kebakaran
Perusahaan perlu mengidentifikasi sumber penyalaan, bahan mudah terbakar, potensi kebocoran, serta kondisi peralatan yang dapat memicu kebakaran.
Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah pengendalian yang sesuai dengan karakteristik tempat kerja.
Menyediakan APAR sesuai kebutuhan
Perusahaan perlu menentukan jenis, jumlah, kapasitas, dan lokasi APAR berdasarkan potensi bahaya, luas area, serta ketentuan yang berlaku.
Selain itu, perusahaan harus memastikan pekerja mengetahui lokasi APAR dan dapat menjangkaunya tanpa hambatan.
Menyelenggarakan pelatihan dan simulasi kebakaran
Pelatihan membantu pekerja memahami teori kebakaran sekaligus mempraktikkan tindakan yang benar. Sementara itu, simulasi tanggap darurat membantu perusahaan mengevaluasi kesiapan personel, jalur evakuasi, komunikasi, dan koordinasi tim.
Perusahaan juga perlu mengevaluasi hasil kegiatan untuk menemukan kekurangan dan memperbaiki prosedur yang belum berjalan efektif.
Melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan
Setiap temuan inspeksi, latihan, maupun insiden harus menjadi bahan evaluasi. Perusahaan perlu menindaklanjuti kekurangan peralatan, memperbaiki prosedur, dan memastikan pekerja memahami perubahan yang berlaku.
Dengan pendekatan tersebut, pencegahan kebakaran dapat menjadi bagian dari budaya keselamatan kerja.
Pelatihan Basic Fire Fighting Membantu Meningkatkan Kesiapsiagaan
Pelatihan Basic Fire Fighting membantu peserta memahami prinsip dasar kebakaran, potensi bahaya di tempat kerja, penggunaan APAR, dan tindakan awal ketika menghadapi keadaan darurat.
Materi pelatihan dapat mencakup pengenalan teori api, jenis kebakaran, media pemadam, pemeriksaan APAR, teknik pemadaman awal, serta prosedur evakuasi. Materi dan praktik perlu disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan risiko di lingkungan kerjanya.
Melalui pelatihan yang tepat, peserta tidak hanya mempelajari cara mengoperasikan alat pemadam. Mereka juga belajar mengenali situasi yang berbahaya, mengambil keputusan secara tepat, dan mengutamakan keselamatan diri serta orang lain.
Bagi perusahaan yang beroperasi di sektor manufaktur, pergudangan, konstruksi, perkantoran, energi, dan fasilitas umum, kesiapsiagaan kebakaran merupakan bagian penting dari pengelolaan risiko K3.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa sarana proteksi kebakaran dan kompetensi pekerja berjalan beriringan.
Kesimpulan: Jangan Tunggu Kebakaran Terjadi untuk Belajar Menggunakan APAR
Kebakaran motor di SPBU Kalimanah, Purbalingga, menjadi pengingat bahwa insiden kebakaran dapat muncul secara tiba-tiba. Dalam kejadian tersebut, petugas SPBU dan warga menggunakan APAR untuk mengendalikan api sebelum kebakaran meluas, kemudian petugas Damkar melakukan pendinginan.
Kejadian ini menegaskan pentingnya kesiapan peralatan pemadam, pengenalan bahaya, dan respons awal yang tepat. Namun, APAR bukan satu-satunya solusi. Pencegahan, evakuasi, prosedur tanggap darurat, dan kemampuan mengenali batas aman pemadaman juga memegang peranan penting.
Jangan menunggu sampai api muncul untuk mempersiapkan pekerja. Pastikan APAR di tempat kerja terawat, mudah dijangkau, dan digunakan oleh personel yang memahami prosedurnya.
Safe Tra Indonesia mendukung peningkatan kompetensi K3 melalui pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Tingkatkan kesiapsiagaan tim Anda melalui pelatihan Basic Fire Fighting dan penggunaan APAR agar pekerja lebih siap menghadapi potensi kebakaran di tempat kerja.
Konsultasi & Pendaftaran Pelatihan | Biaya Pelatihan Basic First Aid
Ingin mengetahui biaya pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda?
Hubungi tim PT Safe Tra Indonesia sekarang untuk mendapatkan penawaran terbaik, jadwal pelatihan, dan juga konsultasi GRATIS.
Daftarkan perusahaan Anda hari ini dan ciptakan lingkungan kerja yang lebih aman!
Pendaftaran Personal

Pendaftaran Perusahaan

Informasi Jadwal Pelatihan

INFORMASI JADWAL DAN PENDAFTARAN :
Contact person
(021) 2762-3629 / (021) 3529-6760 (Kantor safetra)
0818-8532-4943 (Marketing)
0813-8425-3270 (Alternatif)
Sosial Media ⇓
Website : www.safetra.co.id
Youtube : Safetra Indonesia
Instagram : PT Safetra Indonesia
Facebook : PT Safetra Indonesia
Tiktok : Safetra Indonesia
Twitter : Media.Safetra

