Kebakaran di tempat kerja bisa terjadi kapan saja. Korsleting listrik, kebocoran bahan bakar, hingga percikan api dari aktivitas produksi dapat memicu kebakaran yang membahayakan karyawan. Sayangnya, masih banyak orang yang mengira bahwa memadamkan api cukup mengambil APAR dan menyemprotkannya ke arah api.

Padahal, penggunaan APAR yang tidak tepat justru dapat meningkatkan risiko kebakaran dan membahayakan keselamatan. Keselamatan dalam memilih jenis APAR, menentukan arah semprotan atau mengambil saat kondisi darurat bisa membuat situasi semakin sulit dikendalikan.

Karena itu, setiap karyawan perlu memahami cara menggunakan APAR dengan benar. Salah satu langkah yang dapat dilakukan perusahaan adalah mengadakan pelatihan Basic Fire Fighting agar karyawan memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi kebakaran.

Mengapa Penggunaan APAR Tidak Boleh Sembarangan?

APAR atau alat pemadam api ringan merupakan peralatan yang dirancang untuk membantu memadamkan kebakaran pada tahap awal. Peralatan ini dapat menjadi pertolongan pertama saat api mulai muncul, selama kondisi masih aman untuk ditangani.

Namun, setiap jenis APAR memiliki media pemadam dan kegunaan yang berbeda. Oleh sebab itu, pengguna harus menyesuaikan jenis APAR dengan sumber kebakaran.

Sebagai contoh, kebakaran yang melibatkan peralatan listrik bertegangan memerlukan media pemadam yang sesuai. Sementara itu, kebakaran akibat minyak goreng memiliki karakteristik berbeda dan membutuhkan penanganan khusus.

Selain memilih jenis APAR, pengguna juga harus memperhatikan kondisi sekitar. Asap tebal, api yang terus membesar, serta jalur keluar yang terancam merupakan tanda bahwa upaya pemadaman mandiri harus di hentikan.

Dengan demikian, memahami penggunaan APAR bukan hanya tentang cara menyemprotkan media pemadam. Lebih dari itu, pengguna harus mampu menilai bahaya dan menentukan tindakan yang paling aman.

 

APAR atau Alat Pemadam Api Ringan merupakan peralatan yang dirancang untuk membantu memadamkan kebakaran pada tahap awal. Peralatan ini dapat menjadi pertolongan pertama saat api mulai muncul, selama kondisi masih aman untuk ditangani.

Namun, setiap jenis APAR memiliki media pemadam dan kegunaan yang berbeda. Oleh sebab itu, pengguna harus menyesuaikan jenis APAR dengan sumber kebakaran.

Sebagai contoh, kebakaran yang melibatkan peralatan listrik bertegangan memerlukan media pemadam yang sesuai. Sementara itu, kebakaran akibat minyak goreng memiliki karakteristik berbeda dan membutuhkan penanganan khusus.

Selain memilih jenis APAR, pengguna juga harus memperhatikan kondisi sekitar. Asap tebal, api yang terus membesar, serta jalur keluar yang terancam merupakan tanda bahwa upaya pemadaman mandiri harus dihentikan.

Dengan demikian, memahami penggunaan APAR bukan hanya tentang cara menyemprotkan media pemadam. Lebih dari itu, pengguna harus mampu menilai bahaya dan menentukan tindakan yang paling aman.

5 Kesalahan Menggunakan APAR yang Bisa Membahayakan Keselamatan

Kesalahan saat menghadapi kebakaran sering terjadi karena kepanikan dan kurangnya pengetahuan. Berikut lima kesalahan yang perlu dihindari saat menggunakan APAR.

1. Salah Memilih Jenis APAR

Tidak semua APAR cocok untuk setiap jenis kebakaran. Setiap media pemadam meiliki karakteristik dan batas penggunaan yang berbeda.

Sebagai contoh, air dapat menghantarkan listrik sehingga penggunaannya pada peralatan listrik yang masih bertegangan dapat menyebabkan sengatan listrik. Selain itu,, menyiram minyak goreng yang terbakar dengan air dapat menyebarkan minyak panas dan memperbesar kobaran api.

Karena itu, periksa label dan petunjuk penggunaan APAR sebelum menggunakannya. Pastikan media pemadam sesuai dengan jenis kebakaran yang terjadi.

2. Langsung Memadamkan Api Tanpa Menilai Situasi

Saat melihat api, banyak orang langsung berusaha memadamkannya. Padahal, tindakan tersebut belum tentu aman.

Sebelum menggunakan APAR, perhatikan ukuran api, arah penyebaran asap, kondisi lingkungan dan jalur evakuasi. Pastikan api masih berada pada tahap awal dan memiliki jalan keluar yang jelas.

Jika api suda membesar atau asap mulai memenuhi ruangan, segera evakuasi. Selanjutnya, aktifkan prosedur tanggap darurat dan hubungi petugas pemadam kebakaran atau tim tanggap darurat setempat.

Ingat, keselamatan manusia selalu lebih penting daripada menyelamatkan peralatan atau aset perusahaan.

 

Saat melihat api, banyak orang langsung berusaha memadamkannya. Padahal, tindakan tersebut belum tentu aman.

Sebelum menggunakan APAR, perhatikan ukuran api, arah penyebaran asap, kondisi lingkungan, dan jalur evakuasi. Pastikan api masih berada pada tahap awal dan Anda memiliki jalan keluar yang jelas.

Jika api sudah membesar atau asap mulai memenuhi ruangan, segera evakuasi. Selanjutnya, aktifkan prosedur tanggap darurat dan hubungi petugas pemadam kebakaran atau tim tanggap darurat setempat.

Ingat, keselamatan manusia selalu lebih penting daripada menyelamatkan peralatan atau aset perusahaan.

3. Tidak Memahami Cara Mengoperasikan APAR

APAR mungkin terlihat sederhana. Namun, pengguna tetap perlu memahami cara mengoperasikannya dengan benar.

Salah satu metode yang umum digunakan adalah PASS, yaitu empat langkah dasar penggunaan APAR.

  • Pull: tarik pin pengaman APAR.
  • Aim: arahkan nosel ke pangkal api, bukan ke bagian atas kobaran.
  • Squeeze: tekan tuas untuk mengeluarkan media pemadam.
  • Sweep: sapukan semprotan dari sisi ke sisi pada pangkal api.

Metode ini membantu pengguna mengingat urutan dasar pengoperasian APAR. Meski demikian, pengguna tetap harus mengikuti petunjuk pada unit APAR dan memastikan kondisi aman sebelum melakukan pemadaman.

Selain itu, metode PASS tidak menggantikan pelatihan praktik. Peserta perlu berlatih menggunakan peralatan yang sesuai agar memahami teknik pemadaman dengan lebih baik.

4. Berdiri Terlalu Dekat dengan Sumber Api

Kesalahan berikutnya adalah berdiri terlalu dekat dengan api saat menyemprotkan APAR. Posisi ini dapat meningkatkan risiko terkena panas, asap, atau percikan bahan yang terbakar.

Sebaliknya, pengguna perlu menjaga jarak sesuai petunjuk APAR dan kondisi kebakaran. Perhatikan juga arah angin atau aliran udara apabila bekerja di area terbuka.

Jangan sampai upaya memadamkan api justru membuat anda terjebak dalam situasi berbahaya. Oleh karena itu, pastikan jalur evakuasi tetap terbuka dan berada di belakang anda. Jika api tidakk segera terkendali, hentikan upaya pemadaman dan segera menjauh ke tempat aman.

5. Tidak Memeriksa Kondisi APAR Sebelum Digunakan

APAR yang tersedia di dinding belum tentu siap digunakan. Peralatan tersebut dapat mengalami kerusakan, kehilangan tekanan, atau melewati masa pemeliharaan. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, perusahaan perlu melakukan pemeriksaan APAR secara berkala. Pemeriksaan dapat mencakup kondisi fisik tabung, indikator tekanan jika tersedia, pin pengaman, selang, segel, label serta status pemeriksaan dan pemeliharaan.

Dengan pemeriksaan rutin, perusahaan dapat mengidentifikasi masalah sebelum keadaan darurat terjadi. Selain itu, pastikan APAR mudah dijangkau dan tidak terhalang barang.

Bagaimana Cara Menggunakan APAR dengan Benar?

Setelah mengetahui kesalahan yang sering terjadi, langkah berikutnya adalah memahami prosedur penggunaan APAR secara aman.

Berikut langkah-langkah dasar yang perlu diperhatikan:

Pertama, kenali sumber kebakaran. Identifikasi bahan yang terbakar dan pilih APAR yang sesuai. Jangan menggunakan media pemadam tanpa memahami karakteristik kebakarannya.

Kedua, aktifkan prosedur darurat. Beri tahu orang di sekitar, bunyikan alarm jika tersedia, dan ikuti prosedur tanggap darurat perusahaan.

Ketiga, pastikan kondisi masih aman. Lakukan pemadaman awal hanya jika api masih kecil, Anda sudah mendapat pelatihan yang sesuai, tersedia jalur keluar yang aman, dan tidak ada kondisi berbahaya yang menghalangi evakuasi.

Keempat, operasikan APAR sesuai petunjuk. Gunakan metode PASS jika sesuai dengan jenis APAR, lalu arahkan media pemadam ke pangkal api.

Kelima, evaluasi kondisi dan segera mundur jika gagal. Jika api tidak segera padam, kembali membesar, atau kondisi berubah menjadi tidak aman, hentikan pemadaman dan segera evakuasi.

Setelah api padam, jangan langsung menganggap keadaann sudahh aman. Api dapat menyala kembali, sehingga area perlu diperiksa oleh petugas yang berwenang.

Pertama, kenali sumber kebakaran. Identifikasi bahan yang terbakar dan pilih APAR yang sesuai. Jangan menggunakan media pemadam tanpa memahami karakteristik kebakarannya.

Kedua, aktifkan prosedur darurat. Beri tahu orang di sekitar, bunyikan alarm jika tersedia, dan ikuti prosedur tanggap darurat perusahaan.

Ketiga, pastikan kondisi masih aman. Lakukan pemadaman awal hanya jika api masih kecil, Anda sudah mendapat pelatihan yang sesuai, tersedia jalur keluar yang aman, dan tidak ada kondisi berbahaya yang menghalangi evakuasi.

Keempat, operasikan APAR sesuai petunjuk. Gunakan metode PASS jika sesuai dengan jenis APAR, lalu arahkan media pemadam ke pangkal api.

Kelima, evaluasi kondisi dan segera mundur jika gagal. Jika api tidak segera padam, kembali membesar, atau kondisi berubah menjadi tidak aman, hentikan pemadaman dan segera evakuasi.

Setelah api padam, jangan langsung menganggap keadaan sudah aman. Api dapat menyala kembali, sehingga area perlu diperiksa oleh petugas yang berwenang.

Apa Hubungan Pelatihan Basic Fire Fighting dengan Keselamatan Kerja?

Memiliki APAR saja tidak cukup untuk menjamin kesiapsiagaan kebakaran. Karyawan juga perlu memahami potensi bahaya, prosedur tanggap darurat, serta batas kemampuan mereka dalam melakukan pemadaman awal.

Disini lah pelatihan Basic Fire Fighting memiliki peran penting.

Pelatihan ini memberikan pengetahuan dasar tentang kebakaran dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi keadaan darurat. Melalui pembelajaran teori dan praktik, peserta dapat memahami cara memilih media pemadam, mengenali jenis kebakaran, serta penggunaan APAR sesuai prosedur.

Selain itu, pelatihan membantu peserta memahami kapan mereka dapat melakukan pemadaman awal dan kapan harus segera melakukan evakuasi.

Dengan bekal tersebut, karyawan diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih tepat ketika menghadapi situasi darurat. Perusahaan pun dapat meningkatkan kesiapsiagaan tim dalam mendukung penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Materi yang Dipelajari dalam Pelatihan Basic Fire Fighting

Materi pelatihan Basic Fire Fighting dapat disesuaikan dengan karakteristik bahaya dan kebutuhan perusahaan. Secara umum, materi yang dapat diberikan meliputi:

  1. Dasar-dasar kebakaran: peserta mempelajari proses terjadinya api, unsur pembentuk api, serta faktor yang dapat memicu kebakaran.
  2. Identifikasi bahaya kebakaran: peserta mengenali sumber bahaya di lingkungan kerja, seperti instalasi listrik, bahan mudah terbakar, dan aktivitas produksi.
  3. Klasifikasi kebakaran: peserta memahami jenis kebakaran dan pemilihan media pemadam yang sesuai.
  4. Pengenalan APAR: peserta mempelajari fungsi, jenis, komponen, serta pemeriksaan dasar APAR.
  5. Teknik penggunaan APAR: peserta memahami tahapan pengoperasian APAR dan prinsip pemadaman api tahap awal.
  6. Prosedur tanggap darurat: peserta mempelajari tindakan saat terjadi kebakaran, komunikasi keadaan darurat, dan prosedur evakuasi.
  7. Praktik pemadaman: apabila termasuk dalam program pelatihan, peserta dapat melakukan praktik pemadaman dengan pengawasan instruktur dan menggunakan fasilitas latihan yang sesuai.

Melalui materi tersebut, peserta tidak hanya mempelajari teori. Mereka juga dapat memahami penerapan prosedur keselamatan dalam menghadapi risiko kebakaran di tempat kerja.

Siapa yang Perlu Mengikuti Pelatihan Basic Fire Fighting?

Pelatihan Basic Fire Fighting relevan bagi karyawan yang bekerja di lingkungan dengan potensi bahaya kebakaran. Perusahaan dapat mengikut sertakan berbagai kelompok pekerja sesuai kebutuhan operasional

  • Beberapa di antaranya adalah :
    Tim HSE atau K3 yang bertanggung jawab mendukung penerapan keselamatan kerja
  • Petugas keamanan yang perlu memahami prosedur tanggap darurat di area kerja
  • Operator produksi yang bekerja dengan mesin atau peralatan operasional
  • Teknisi yang menangani instalasi listrik dan kegiatan pemeliharaan
  • Karyawan kantor, gedung komersial, gedung, dan fasilitas industri
  • Anggota tim tanggap darurat internal perusahaan

Dengan melibatkan karyawan yang tepat, perusahaan dapat meningkatkan pemahaman tentang bahaya kebakaran di berbagai area kerja. Selanjutnya, perusahaan dapat menyesuaikan program pelatihan dengan hasil identifikasi risiko dan prosedur tanggap darurat yang berlaku.

Tingkatkan Kesiapsiagaan Kebakaran Bersama Safe Tra Indonesia

Kebakaran dapat berkembang dalam waktu singkat. Karena itu, perusahaan perlu mempersiapkan karyawan sebelum keadaan darurat terjadi.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan pelatihan Basic Fire Fighting. Melalui pelatihan ini, peserta dapat mempelajari dasar-dasar kebakaran, penggunaan APAR, teknik pemadaman awal, dan prosedur tanggap darurat.

Safe Tra Indonesia menyediakan layanan pelatihan K3 yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, termasuk pelatihan Basic Fire Fighting. Program pelatihan dapat dibahas lebih lanjut berdasarkan karakteristik tempat kerja, potensi bahaya kebakaran, dan kebutuhan peserta.

Jangan menunggu kebakaran terjadi untuk memulai membangun kesiapsiagaan. Pastikan karyawan memahami cara menghadapi keadaan darurat dan mengetahui kapan harus melakukan evakuasi.

Hubungi Safe Tra Indonesia untuk mendapatkan indormasi mengenai jadwal, materi, penawaran pelatihan Basic Fire Fighting bagi perusahaan anda

📞 Konsultasi & Pendaftaran Pelatihan | Biaya Pelatihan Tenaga Kerja Bangunan Tinggi Tingkat 2

Ingin mengetahui biaya pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda?
Hubungi tim PT Safe Tra Indonesia sekarang untuk mendapatkan penawaran terbaik, jadwal pelatihan, dan juga konsultasi GRATIS.

👉 Daftarkan perusahaan Anda hari ini dan ciptakan lingkungan kerja yang lebih aman!

Pendaftaran Personal 👉  5 Standar Keselamatan yang Wajib Dipatuhi Saat Kerja di Ketinggian TKBT 2

Pendaftaran Perusahaan 👉  5 Standar Keselamatan yang Wajib Dipatuhi Saat Kerja di Ketinggian TKBT 2

Informasi Jadwal Pelatihan 👉 5 Standar Keselamatan yang Wajib Dipatuhi Saat Kerja di Ketinggian TKBT 2


INFORMASI JADWAL DAN PENDAFTARAN :

Contact person

(021) 2762-3629 / (021) 3529-6760 (Kantor safetra)

0818-8532-4943 (Marketing)

0813-8425-3270 (Alternatif)

Sosial Media ⇓

Website     : www.safetra.co.id

Youtube     : Safetra Indonesia

Instagram : PT Safetra Indonesia

Facebook  : PT Safetra Indonesia

Tiktok        : Safetra Indonesia

Twitter      : Media.Safetra


Safetra Training Center, Bintaro Sektor 9

Jalan Elang VIII Terusan No 11 Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan

INGAT SAFETY? INGAT SAFE TRA!

Leave a Comment