
Pekerjaan konstruksi menuntut setiap pekerja untuk mengutamakan keselamatan, terutama ketika mereka menggunakan scaffolding atau perancah. Peralatan ini membantu pekerja menjangkau area tinggi saat memasang struktur, mengecat bangunan, memperbaiki fasilitas, hingga melakukan pemeliharaan gedung. Namun, kesalahan saat memasang, memeriksa, atau menggunakan scaffolding dapat menimbulkan kecelakaan serius.
Kabar kecelakaan kerja yang melibatkan scaffolding kembali menjadi perhatian pada 2026. Pada 21 September 2026, seorang peserta magang asal Indonesia dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di proyek konstruksi di Fukuyama, Jepang. ANTARA melaporkan bahwa korban terjatuh dari scaffolding dengan ketinggian lebih dari tiga meter dan mengalami cedera fatal setelah bagian rangka konstruksi menimpanya. <a href=”https://bengkulu.antaranews.com/berita/480392/peserta-magang-asal-bengkulu-tewas-jatuh-dari-scaffolding-di-fukuyama-jepang“>Baca laporan ANTARA.</a>
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pekerjaan di ketinggian membutuhkan perencanaan yang matang, peralatan yang layak, pengawasan yang memadai, dan pekerja yang memahami prosedur keselamatan. Pengalaman kerja saja tidak cukup apabila pekerja mengabaikan potensi bahaya di sekitarnya.
Dalam kondisi ini, operator scaffolding dan personel yang bertugas memasang, mengubah, memeriksa, atau membongkar perancah memegang peran penting. Mereka harus memahami fungsi setiap komponen, mengenali kondisi yang tidak aman, dan menghentikan pekerjaan ketika menemukan potensi bahaya.
Apa Itu Operator Scaffolding?
Operator scaffolding merupakan istilah yang digunakan untuk personel yang mengoperasikan atau menangani sistem perancah sesuai pembagian tugas di tempat kerja. Dalam praktik konstruksi, tanggung jawab tersebut dapat melibatkan pemasangan, perubahan konfigurasi, pemeriksaan, pemeliharaan, dan pembongkaran scaffolding.
Perusahaan perlu membedakan tugas operator, pekerja pemasang perancah, pemeriksa perancah, dan pengawas. Setiap personel harus menjalankan tanggung jawab sesuai kompetensi, kewenangan, prosedur kerja, serta ketentuan yang berlaku.
Scaffolding sendiri merupakan struktur sementara yang menyediakan akses dan area kerja bagi pekerja pada ketinggian tertentu. Struktur ini biasanya terdiri atas rangka atau tiang penyangga, penghubung, platform kerja, pengaman tepi, akses naik-turun, serta komponen lain sesuai desain sistem yang digunakan.
Pekerja tidak boleh merakit scaffolding hanya berdasarkan perkiraan atau kebiasaan. Mereka harus mengikuti desain dan petunjuk teknis yang sesuai dengan jenis perancah, beban kerja, kondisi permukaan, serta lingkungan proyek.
Mengapa Pekerjaan Operator Scaffolding Memiliki Risiko Tinggi?
Pekerjaan scaffolding menghadirkan beberapa potensi bahaya sekaligus. Pekerja dapat terjatuh dari ketinggian, tertimpa material, terpeleset di platform, atau mengalami kecelakaan akibat struktur yang tidak stabil.
Berikut beberapa risiko yang perlu perusahaan kendalikan.
1. Terjatuh dari Ketinggian
Jatuh dari scaffolding menjadi salah satu risiko utama dalam pekerjaan konstruksi. Pekerja dapat kehilangan keseimbangan ketika berpindah posisi, mengakses platform, membawa material, atau bekerja di area yang tidak memiliki perlindungan tepi memadai.
Kondisi platform yang licin, akses yang tidak aman, dan penggunaan sistem pelindung jatuh yang tidak tepat juga dapat meningkatkan risiko.
Untuk mengurangi bahaya tersebut, perusahaan harus menyediakan akses yang aman, memasang pelindung tepi sesuai kebutuhan desain, menjaga platform tetap rapi, serta menerapkan sistem perlindungan jatuh berdasarkan penilaian risiko.
2. Scaffolding Tidak Stabil atau Runtuh
Scaffolding yang tidak terpasang sesuai desain dapat kehilangan kestabilan. Risiko ini dapat muncul ketika pekerja menggunakan komponen yang rusak, memasang sambungan secara tidak benar, mengabaikan pengaku, atau mendirikan perancah di atas permukaan yang tidak mampu menopang beban.
Beban berlebih juga dapat mengganggu kestabilan struktur. Karena itu, pekerja harus memperhatikan kapasitas beban yang telah ditentukan dan tidak menambahkan material secara sembarangan.
Operator maupun personel yang bertanggung jawab atas scaffolding harus segera melaporkan komponen yang rusak atau kondisi yang menunjukkan ketidakstabilan. Perusahaan harus membatasi penggunaan perancah sampai personel berwenang menyelesaikan pemeriksaan dan menyatakan kondisinya aman.
3. Tertimpa Material atau Komponen Scaffolding
Pekerja yang berada di bawah scaffolding dapat terkena benda jatuh, seperti perkakas, material bangunan, atau komponen perancah. Bahaya ini dapat muncul ketika pekerja tidak mengamankan material atau memindahkan komponen tanpa mengendalikan area di sekitarnya.
Perusahaan perlu menetapkan zona kerja, membatasi akses orang yang tidak berkepentingan, mengamankan perkakas, dan menggunakan metode pemindahan material yang sesuai.
Pekerja juga harus mengenakan alat pelindung diri yang sesuai dengan hasil penilaian risiko, termasuk helm keselamatan dan sepatu keselamatan.
4. Tersengat Listrik Saat Bekerja di Dekat Instalasi Listrik
Scaffolding berbahan logam dapat menghantarkan listrik. Oleh karena itu, pekerja harus memperhatikan kabel listrik, jaringan bertegangan, serta instalasi listrik di sekitar lokasi kerja.
Bahaya dapat muncul ketika perancah atau komponen yang dibawa pekerja bersentuhan dengan sumber listrik. Kondisi ini dapat menyebabkan sengatan listrik dan memicu pekerja terjatuh.
Sebelum memulai pekerjaan, perusahaan perlu mengidentifikasi sumber listrik di sekitar area kerja, menentukan jarak aman sesuai ketentuan yang berlaku, dan mengoordinasikan pengamanan dengan personel yang berwenang. Pekerja tidak boleh melanjutkan pekerjaan apabila kondisi kelistrikan belum aman.
5. Menggunakan Scaffolding Tanpa Pemeriksaan yang Memadai
Scaffolding dapat mengalami perubahan kondisi setelah digunakan, terkena cuaca, menerima beban, atau mengalami perubahan konfigurasi. Komponen yang sebelumnya tampak baik belum tentu tetap aman setelah mengalami perubahan tersebut.
Karena itu, personel yang berwenang harus memeriksa scaffolding sebelum digunakan dan setelah terjadi perubahan atau kejadian yang dapat memengaruhi kestabilannya. Pemeriksaan juga perlu mengikuti prosedur perusahaan dan ketentuan yang berlaku.
Jangan menggunakan scaffolding hanya karena struktur tersebut masih berdiri. Kondisi sambungan, penyangga, platform, akses, dan pengaman harus memenuhi persyaratan keselamatan.
Tugas dan Tanggung Jawab Operator Scaffolding
Operator scaffolding dan personel yang menangani perancah perlu memahami tugasnya secara jelas. Pembagian tanggung jawab yang tepat membantu perusahaan mencegah kesalahan kerja dan memastikan setiap tahapan berjalan aman.
Berikut tanggung jawab utama yang perlu diterapkan sesuai peran masing-masing.
1. Memeriksa Kondisi Komponen
Personel harus memeriksa komponen sebelum memasang atau menggunakan scaffolding. Mereka perlu memperhatikan retakan, deformasi, korosi yang memengaruhi kekuatan, sambungan yang rusak, serta komponen yang tidak sesuai dengan sistem perancah.
Komponen yang tidak layak harus dipisahkan agar pekerja tidak menggunakannya kembali tanpa pemeriksaan dan keputusan dari personel yang berwenang.
2. Mengikuti Desain dan Prosedur Pemasangan
Pekerja harus merakit scaffolding sesuai desain, petunjuk produsen, dan prosedur kerja yang telah ditetapkan. Mereka tidak boleh mengubah susunan komponen, menghilangkan pengaku, atau menambahkan bagian tanpa persetujuan dan evaluasi teknis yang sesuai.
Langkah ini penting untuk menjaga kekuatan dan kestabilan struktur selama pekerja melakukan aktivitas di atasnya.
3. Memastikan Area Kerja Aman
Sebelum memulai pekerjaan, personel perlu memeriksa permukaan tempat scaffolding berdiri, akses keluar-masuk, kondisi cuaca, potensi gangguan dari aktivitas lain, serta keberadaan instalasi listrik.
Jika menemukan bahaya yang belum terkendali, pekerja harus melaporkannya dan menunda pekerjaan sampai tindakan pengendalian tersedia.
4. Mematuhi Batas Beban
Setiap sistem scaffolding memiliki kapasitas beban yang harus diperhatikan. Pekerja perlu menghitung atau memastikan kesesuaian beban material, perkakas, dan orang yang berada di platform berdasarkan ketentuan desain.
Menyimpan terlalu banyak material di satu titik dapat meningkatkan beban lokal dan mengganggu kestabilan perancah.
5. Melaporkan Kondisi Tidak Aman
Operator dan pekerja harus segera melaporkan sambungan yang longgar, platform yang rusak, pengaman yang tidak lengkap, atau perubahan struktur yang mencurigakan.
Perusahaan perlu menindaklanjuti laporan tersebut melalui prosedur inspeksi dan perbaikan. Pekerja tidak boleh mengambil risiko dengan tetap menggunakan scaffolding yang belum dinyatakan aman.
6. Melakukan Pembongkaran Sesuai Prosedur
Pembongkaran scaffolding juga membutuhkan perencanaan. Pekerja harus mengikuti urutan pembongkaran yang telah ditetapkan, mengamankan komponen, serta menjaga agar material tidak jatuh dan menimpa orang lain.
Perusahaan harus mengendalikan akses di sekitar area pembongkaran dan memastikan pekerja memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugasnya.
Bagaimana Cara Mencegah Kecelakaan Kerja pada Scaffolding?
Perusahaan tidak cukup hanya menyediakan scaffolding dan alat pelindung diri. Mereka juga harus membangun sistem kerja yang memastikan setiap potensi bahaya teridentifikasi dan terkendali sebelum pekerjaan dimulai.
Berikut langkah pencegahan yang perlu diterapkan.
Pertama, lakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko. Perusahaan harus mengidentifikasi potensi jatuh, benda jatuh, kegagalan struktur, sengatan listrik, serta bahaya lingkungan kerja. Hasil penilaian tersebut menjadi dasar pemilihan metode kerja dan tindakan pengendalian.
Kedua, pastikan personel memiliki kompetensi yang sesuai. Pekerja harus memahami prosedur pemasangan, penggunaan, pemeriksaan, dan pembongkaran sesuai tanggung jawabnya. Perusahaan juga perlu memastikan personel yang melakukan pemeriksaan memiliki kewenangan dan kompetensi yang sesuai.
Ketiga, periksa kondisi scaffolding sebelum digunakan. Pemeriksaan harus mencakup komponen, sambungan, kestabilan, platform, akses, pengaman, dan kesesuaian dengan desain. Pemeriksaan tambahan diperlukan setelah perubahan atau kejadian yang dapat memengaruhi keselamatan struktur.
Keempat, gunakan alat pelindung diri yang sesuai. Perusahaan harus menyediakan perlindungan yang diperlukan berdasarkan penilaian risiko. Jika pekerjaan membutuhkan sistem pelindung jatuh, pekerja harus menggunakan sistem yang sesuai, memiliki titik penjangkaran yang tepat, dan memahami cara penggunaannya.
Kelima, lakukan pengarahan keselamatan sebelum bekerja. Pengawas perlu menjelaskan bahaya pekerjaan, urutan aktivitas, pembagian tugas, kondisi penghentian kerja, dan prosedur tanggap darurat kepada seluruh personel.
Keenam, hentikan pekerjaan ketika kondisi tidak aman. Pekerja tidak boleh memaksakan pekerjaan saat scaffolding mengalami kerusakan, cuaca membahayakan, atau perlindungan yang diperlukan belum tersedia. Pengawas harus memastikan tim menyelesaikan masalah sebelum melanjutkan aktivitas.
Mengapa Pelatihan Operator Scaffolding Penting?
Pelatihan membantu pekerja memahami bahwa scaffolding bukan sekadar rangka untuk mencapai ketinggian. Setiap komponen memiliki fungsi, setiap perubahan struktur dapat memengaruhi kestabilan, dan setiap pekerjaan memerlukan pengendalian risiko.
Melalui pelatihan yang sesuai dengan tugas dan ketentuan yang berlaku, pekerja dapat meningkatkan pemahaman mengenai bahaya kerja di ketinggian, penggunaan alat pelindung diri, prosedur kerja aman, serta tindakan yang harus dilakukan ketika menemukan kondisi berbahaya.
Perusahaan juga dapat menggunakan pelatihan sebagai bagian dari program peningkatan kompetensi dan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Namun, pelatihan saja tidak cukup. Perusahaan tetap harus menyediakan peralatan yang layak, pengawasan, prosedur yang jelas, serta lingkungan kerja yang aman.
Perusahaan perlu memilih program pelatihan berdasarkan jenis scaffolding, aktivitas pekerjaan, tingkat risiko, dan persyaratan kompetensi yang berlaku. Jangan menganggap semua pelatihan scaffolding memiliki ruang lingkup atau pengakuan sertifikasi yang sama.
Peran Perusahaan dalam Menerapkan K3 pada Pekerjaan Scaffolding
Keselamatan kerja bukan hanya tanggung jawab operator atau pekerja di lapangan. Manajemen, kontraktor, pengawas, dan personel K3 harus bekerja sama untuk mengendalikan risiko.
Perusahaan perlu memastikan beberapa hal berikut:
- Menyusun prosedur kerja aman untuk pemasangan, penggunaan, perubahan, dan pembongkaran scaffolding.
- Menunjuk personel yang kompeten sesuai tugas dan tanggung jawabnya.
- Menyediakan komponen scaffolding yang sesuai, layak, dan terawat.
- Melaksanakan pemeriksaan dan mendokumentasikan hasilnya sesuai prosedur.
- Mengendalikan area kerja agar orang yang tidak berkepentingan tidak terpapar bahaya.
- Menyelenggarakan pengarahan keselamatan dan pelatihan sesuai kebutuhan.
- Menindaklanjuti laporan bahaya dan melakukan evaluasi setelah insiden atau kejadian nyaris celaka.
Langkah tersebut membantu perusahaan membangun budaya keselamatan yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan administrasi, tetapi juga pada perlindungan pekerja selama menjalankan tugas.
Kesimpulan: Jangan Anggap Remeh Keselamatan Kerja di Ketinggian
Kecelakaan scaffolding menunjukkan bahwa pekerjaan di ketinggian membutuhkan perhatian serius. Kesalahan kecil, seperti menggunakan komponen yang rusak, mengabaikan pemeriksaan, atau bekerja tanpa perlindungan yang memadai, dapat menimbulkan konsekuensi besar.
Operator scaffolding dan personel yang menangani perancah harus memahami tanggung jawabnya, mengikuti prosedur, dan mengenali kondisi yang tidak aman. Di sisi lain, perusahaan harus memastikan tersedianya peralatan yang layak, pengawasan, pengendalian risiko, serta pelatihan yang sesuai.
Jangan menunggu kecelakaan terjadi untuk mengevaluasi keselamatan kerja. Bangun budaya K3 sejak tahap perencanaan, sebelum pekerja menaiki scaffolding dan memulai aktivitas di ketinggian.
Ingat K3, Ingat Safe Tra. Utamakan keselamatan, tingkatkan kompetensi pekerja, dan jadikan setiap pekerjaan sebagai aktivitas yang terencana serta terkendali.
Konsultasi & Pendaftaran Pelatihan | Biaya Pelatihan Basic First Aid
Ingin mengetahui biaya pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda?
Hubungi tim PT Safe Tra Indonesia sekarang untuk mendapatkan penawaran terbaik, jadwal pelatihan, dan juga konsultasi GRATIS.
Daftarkan perusahaan Anda hari ini dan ciptakan lingkungan kerja yang lebih aman!
Pendaftaran Personal

Pendaftaran Perusahaan

Informasi Jadwal Pelatihan

INFORMASI JADWAL DAN PENDAFTARAN :
Contact person
(021) 2762-3629 / (021) 3529-6760 (Kantor safetra)
0818-8532-4943 (Marketing)
0813-8425-3270 (Alternatif)
Sosial Media ⇓
Website : www.safetra.co.id
Youtube : Safetra Indonesia
Instagram : PT Safetra Indonesia
Facebook : PT Safetra Indonesia
Tiktok : Safetra Indonesia
Twitter : Media.Safetra

